Keluarga Bahagia
Bismillah...
Dan orang orang yang berkata: “Ya Robb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Qs. Al-Furqon ayat 74
Terwujudnya kebahagiaan rumahtangga adalah dambaan setiap pasangan suami-istri. Sayangnya, tidak semua pasangan suami-istri berusaha semaksimal mungkin untuk merengkuhnya.
Penyebab utama ketidak harmonisan atau kegagalan berumahtangga adalah karena sejak awal, pasangan suami-istri tidak menetapkan konsep tentang kebahagiaan rumahtangga, tidak menetapkan sarana yang dapat mengantarkan mereka ke tujuan tersebut, SERTA TIDAK MENGERAHKAN SELURUH DAYA UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN TERSEBUT.
Padahal kebahagiaan rumahtangga laksana tanaman yang berbuah, ia tumbuh setelah ditanam, disiram, dan dirawat. Kebahagiaan rumahtangga bukanlah berkat tiadanya perselisihan antara suami-istri, melainkan karena keberhasilan mengatasinya. Kebahagiaan rumahtangga bersumber pada perlakuan yang baik di antara suami-istri.
Seiring dengan itu, hal yang sangat mendasar untuk diketahui suami-istri adalah bersikap realistis dalam memahami karakteristik kehidupan berumahtangga. Karakteristik tersebut adalah tiadanya kesempurnaan antara sifat atau watak suami di mata istri, dan sifat atau watak istri di mata suami. Oleh sebab itulah keduanya tidak boleh berharap berlebihan mengenai terwujudnya suatu gambaran keharmonisan hidup berumahtangga secara sempurna.
Kebahagiaan berumahtangga yang ditandai keharmonisan dan kemesraan hubungan suami-istri bukanlah bertumpu pada sesuatu yang mustahil. Sangat mungkin suami-istri akan hidup penuh dengan cinta, jika setiap dari mereka mengetahui apa yang disenangi dan apa yang tidak disenangi oleh pasangannya.
Masalah yang terjadi antara suami-istri umumnya dikarenakan adanya perbedaan di antara keduanya, tidak adanya perhatian di antara mereka, serta tidak melihat suatu permasalahan secara bijak. Senang mendramatisir sesuatu yang tidak seharusnya. Menciptakan prasangka 2 yang sama sekali blum jelas alasanya. Inilah biang masalah yang dapat mengancam perjalanan biduk rumahtangga.
Seharusnyalah membangun kebersamaan yang mungkin lebih dominan diantara suami-istri , bukan sebaliknya membesarkan perbedaan yg sehrusnya bukan masalah besar.
Islam telah mengajarkan bagaimana semua persoalan tersebut harus disikapi atau diatasi.
Pasangan suami-istri yang mempunyai keberagamaan yang baik, membuat satu sama lain merasa lebih tenteram. Mereka saling mengasihi, menghormati, saling percaya untuk menjaga rahasia dan nama baik diri sendiri dan keluarga, merawat dan mendidik anak, menjaga harta, serta menjalin hubungan baik dengan orangtua/mertua dan saudara kandung/ipar.
Membangun kebahagiaan rumahtangga yang didasari agama akan berlangsung secara langgeng. Agama adalah pelita bagi akal dan hati. Dengan agamalah akal mampu memandang kebenaran sejati sehingga hati pun menjadi tenang dan tenteram dalam menjalani kehidupan berumahtangga.
Sebaliknya, membangun rumahtangga yang cuma mengandalkan fisik (tetampanan atau kecantikan), materi, atau ukuran keduniawian lain, merupakan rumahtangga yang dibangun di atas fondasi yang rapuh, labil, karena mengikuti keinginan nafsu destruktif.
Cepat atau lambat, kebahagiaan semacam itu akan memudar, bahkan hilang sama sekali karena disandarkan pada sesuatu yang fana.........................
Wallohu'alam





