Ikatan Keluarga Alumni SMPN 181 Jakarta Pusat

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Ujian Dalam Rumah Tangga

Saudara dan sahabatku ... 

Semoga dalam keadaan sehat dan selalu bahagia bersama keluarga Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin...

Kalau ada masalah rumah tangga di 1 tahun pernikahan

2 tahun pernikahan

3 tahun pernikahan

4 tahun pernikahan

5 tahun pernikahan

Dan di tahun-tahun selanjutnya..

Entah karena faktor,

Ekonomi menurun

Belum punya momongan

Beda pendapat umum dengan suami

Drama mertua

Atau masalah lainnya...

"Selama itu bukan"

> KDRT

Suami kelainan seksual

Suami berzina

Suami bermalas-malasan tidak menafkahi

Dan masalah berat yang mungkin gak bisa kamu selesaikan sendirian sedangkan kamu dan anak-anak berhak hidup tenang juga bahagia...

Maka, 

Bersabarlah jika masalah yang kamu hadapi bukan masalah berat..

Karena, ujian sebenarnya dalam berumah tangga adalah saat usia pernikahanmu berada di fase jenuh yaitu 10 tahun keatas pernikahan.

Bukan lagi tentang ekonomi

Bukan lagi tentang mertua jahat

Bukan lagi tentang handuk basah di atas kasur

Bukan...

Tetapi, saat hatimu dan hatinya sama-sama jenuh di dalam ikatan sebuah pernikahan yang mengharuskan bertahan untuk sama-sama saling mencintai.

Maka, 

Tetaplah bersabar di ujian pernikahan di usia muda ini..

Karena ini cara Alloh membuat hatimu dan hati suamimu saling terpaut, saling menyemangati, saling mencari solusi,

saling bersabar membersamai, saling mendoakan kebaikan..


Dengan begitu, 

Saat usia pernikahanmu berada di fase terjenuh

Kamu akan ber-nostalgia bahwa, kalian pernah sama-sama melalui semua ujian demi ujian dengan bahagia, seberat dan sesulit apapun tetap bergandengan 

1 2 3 4 5 6 7 tahun pernikahan

Percayalah Alloh sedang menempa kesabaranmu 

Untuk ujian rumahtangga yang lebih besar di depan nanti.


Karena, ujian pernikahan yang sesungguhnya adalah mencintai orang yang sama selamanya sampai di Surga-Nya..

============================

Sumber : MUSQA

MUSQA - Ma'had Qur'an Wa 'Uluum Syar'iyyatu Linnisa - 'An Bu'd

Visi : Bersama kita meniti jalan menuju jannah-Nya dengan berpedoman AlQur'an dan As-Sunnah bifahm Salafusshaalih


Share:

Pernikahan

Akad Nikah di dalam Islam tidaklah seperti akad-akad biasa.
Al-Quran mengungkapkan pernikahan ini dengan tiga sebutan.

Pernikahan
adalah âyat (tanda kekuasaan Alloh)
sekaligus 'uqdah (simpul ikatan) dan
juga mîtsâqun gholîzh (janji yang berat).

Di dalam Al-Quran Alloh Swt. menyatakan Akad Nikah
dengan sebutan mîtsâqun ghalîzh (janji yang berat).
Padahal kata mîtsâqun gholîz ini sendiri di dalam Al-Quran
disebutkan hanya tiga kali.

Diantaranya adalah untuk akad pernikahan (An-Nisâ: 21).

 “Bagaimana
kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul
(bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu)
telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Begitupun dalam bahasa Arab... Akad berarti ikatan janji.
Di dalam Islam janji adalah sesuatu yang wajib ditepati,
sebagaimana perintah Allah Swt. dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 1,

"Wahai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janjimu."
Setiap ikatan janji tentunya akan melahirkan hak-hak
dan kewajiban di antara kedua belah pihak yang berjanji.

Akad juga berarti mengikat atau menyimpulkan.
Maka laki-laki dan perempuan yang melakukan akad nikah
berarti keduanya telah mengikat simpul ikatan hidup bersama.
Ikatan kebersamaan yang harmoni dan langgeng.
Ikatan hubungan yang akan diteruskan kelak di surga Allah
Swt..

Semoga Alloh memberikan keutuhan rumah tangga kita
dan mewarisi anak" anak yang soleh dan solehah...aamiin.

Untuk Umi  ... Istriku  yang selalu penuh sabar mengurusi keluarga ini....

jazakillah
Share:

Kedermawanan



Yang Tertukar

Seorang wanita bertanya pada penjual telur yg sudah tua, "Berapa harga telurnya?"
Penjual telur menjawab, "Satu butir harganya Rp 2.500, Nyonya."
Wanita itu berkata, "Saya mau mengambil 6 butir tapi dengan harga Rp 12.500 atau kalau nggak ya udah, nggak jadi beli."
Penjual telur menjawab, "Baiklah, mungkin ini awal yg baik karena dari tadi tak ada satupun telur yg berhasil saya jual."
Wanita itu mengambil telur2 tersebut dan berjalan dengan perasaan senang bahwa dia sudah menang. Kemudian dia masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi ke restoran bersama temannya. Di sana, dia bersama temannya memesan apapun yg mereka sukai.
Mereka makan sedikit dan menyisakan banyak dari apa yg sudah mereka pesan. Kemudian wanita tersebut membayar tagihannya. Tagihannya sebanyak Rp 450.000. Dia memberikan uang Rp 500.000 dan berkata bahwa kembaliannya untuk sang pemilik restoran saja.
Kejadian seperti ini mungkin terlihat normal bagi pemilik restoran, tapi sangat menyakitkan bagi penjual telur yg sudah tua.
Intinya adalah: "Mengapa kita selalu menunjukkan bahwa kita punya kuasa ketika kita membeli dari orang2 yg membutuhkan? Dan kenapa juga kita jadi dermawan kepada orang2 yg bahkan tidak membutuhkan kedermawanan kita?"
Suatu ketika saya pernah membaca:
"Ayahku biasa membeli barang2 remeh-temeh dari orang miskin dengan harga tinggi, walaupun dia tidak membutuhkan barang2 tersebut. Kadang2 dia bahkan membayar lebih untuk itu. Aku tertarik pada hal ini dan lantas bertanya mengapa dia melakukannya? Kemudian ayahku menjawab, "Anakku, Ini Adalah Sedekah Yang TerBungkus Dengan Harga Diri."
Pertanyaannya;
Kita Termasuk Yang Mana?
Wanita Yang Membeli Telur & Menawar?
Atau...
Wanita Yang Memberikan Tips Ke Restorant?
Atau...
Sedekah Yang Terbungkus Dengan Harga Diri?
_Be Wise & Be Positive Thinking Always_
Semoga Alloh Ta'ala membimbing kita untuk selalu dalam kebaikan dan kebahagiaan hidup yg diRidhoi Alloh Ta'ala.
Semoga kita bisa terus istiqomah dalam beribadah, senantiasa mensyukuri nikmatMu dan beri kami kekuatan dalam beribadah dan menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), Aamiin

Sumber : www.sejenakpagi.info







Share:

Catatan dari seorang anak...suami...dan ayah

Bismillah...
Alhamdulillah

'Ntah dari mana aku akan memulai
tulisan ini... dan 'ntah mengapa aku
ingin membuat tulisan ini.


Apa karna kecemasan yang demikian dalam...?

Hmmm... mungkin dimulai dari
hari ini saja 


Hari ini 44 tahun yang lalu (19 November1971)
seorang anak lahir di dunia ini dari keluarga berdarah sunda di sebuah RS di
Jakarta Pusat. Keluarga biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa...tetapi kami
cukup bahagia dan sejahtera. Ayah dan mamah (demikian biasa kami memanggil
untuk orang tuaku) berasal dari Garut sebuah kota di Jawa Barat. Sudah sejak
muda orangtua ku merantau di Kota Jakarta.




Di hari lahirku inilah, aku
jadi teringat “mamah” ... sosok wanita yang melahirkanku..”semoga Alloh
mengampuni dosa2nya dan menyayanginya seperti aku di waktu kecil, dan semoga
Ayah dan mamah di sana dalam keadaan sehat walafiat... serta Alloh berikan
kemudahan urusanya serta kelancaran rezekinya... dan di jauhkan dari mara
bahaya...aamiin...


Mamah maafkan anak mu ini...
yang sampai detik ini belum bisa membahagiakan mu... tetapi aku akan senantiasa
berdoa semoaga Ayah dan Mamah di berikan bimbingan ...kemudahan dalam
menjalankan perintah-perintah Alloh... agar tercapai kebahagiaan akherat... kebahagiaan
yang hakiki... aamiin


Apa yang aku persembahkan
sampai saat ini tentunya tidak seberapa di bandingkan pengorbanan .. kasih sayang
yang ayah - mamah berikan kepada ku sampai saat ini...

Jerih payah ayah sebagai pekerja yang disiplin dan rajin... sungguh sangat terinpirasi bagi diri ini... Didikan ayah selalu akan ku ingat... terimakasih ayah ... engkau telah membentuk diri ini menjadi seorang ayah dan suami yang bertanggungjawab....



Semua yang aku peroleh aku yakin aku takkan mampu
untuk membalasnya.


Ayah-Mamah maafkan anakmu bila
selama ini ada ucapan dan perbuatan yang menyakitimu...semoga ayah dan mamah mau
memaafkan anakmu ini...


Terbayang akan mamahku yang
melahirkan ... aku pun  teringat kepada
wanita yang melahirkan anak-anak ku... “istriku”


Dialah wanita yang menemaniku selama ini. Bahtera yang kami jalani bersama saat ini akan genap 15tahun
(24 november nanti). Sungguh bukan hal yang mudah dan ringan mengarungi lautan
kehidupan ini ... ada pasang dan surutnya... ada gelombang ombak dan tiupan
angin lautnya...


Istriku kau dampingi suamimu
dengan sabar ... dengan tabah dan tak pernah putus asa... ketika berada dalam
goncangan ombak kehidupan... kau berikan semangat dan kesabaran pada diriku.


Apapun yang aku berikan kau
terima dengan senang dan ikhlas walaupun kau tau apa yang kuberikan sunngguh
sangat jauh dari kecukupan.


Dan semua itu kita lalui
bersama sampai menjelang genap 15 tahun pernikahan kita. Kau berjuang untuk
kelahiran anak kita... dengan mempertaruhkan nyawamu... kau mengurus...
mendidik dan menyayangi mereka... Terimakasih istriku, sungguh aku takkan
mungkin dapat mencari wanita lain yang sepertimu. Aku cukup bahagia dengan
melihatmu bahagia... indah di pandang mata dan membawa ketenangan di dalam hati
ini... engkaulah istri solehah.


Aku dengan istri dan lima anak-anakku,
kini tinggal di kota Jakarta belahan timur. Dalam kehidupan ini sudah banyak
hal-hal yang menjadi pelajaran dalam hidup ku .


Yaa Alloh berikan
ketenangan... kedamaian dan kasih sayang dalam rumah tangga kami... jadikan
anak-anak kami anak yang soleh dan solehah... Aku sebagai ayah dari lima anak


Zahra 
– Syifa 

– Ghozie 

– Syaiful dan

– Badar 

Anak-anakku jadilah kalian muslim yang
berTAQWA. Bukan gelar dunia yang kami inginkan, tetapi menjadikan kalian
sebagai generasi penerus risalah dakwah ini ... generasi muda Islam yang kuat
... tangguh... untuk menegakkan kalimat Alloh.

Ya Alloh berikan kepada hambamu ini kemampuan mendidik amanah yang Engkau berikan... Jadikan kami penghuni-penghuni surgamu Yaa Alloh...  “...jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka...” (Qs.
At-Tahriim ayat 6)


Di hari ini, ketika usia ini
semakin bertambah dan masa hidup semakin berkurang ... timbul dalam diri ini
kecemasan kekhawatiran

“... bekal apa
yang sudah aku siapkan untuk hari esok...” (Qs. Al-Hasyr ayat 18).

Maka ku
mohon yaa Alloh terimalah amalan soleh hambamu ini... jadikan sebagai bekal
hidupku ya Alloh... di kehidupan yang hakiki... Berikan kemampuan kepada hambamu
ini dalam menjalankan perintah-perinyah mu Yaa Alloh ... aamiin ...

Laa haula walaa quwwata illa billah ...












Share:

Hanya Engkaulah Yang Maha Mengatur

Ya Alloh , Aku tak mampu mengobati atau menyenangkan siapapun
...
Hanya Engkaulah Yang Maha Mengaturnya






 



Share:

MAKANAN GOSONG TIDAK MENYAKITI SIAPAPUN...


 Untuk Keluargaku, istri dan anak"ku, saudara"ku, sahabat dan teman"ku, dan untuk semua teman dumay ku...

==================

MAKANAN GOSONG TIDAK MENYAKITI SIAPAPUN...

Mantan presiden India, DR. Abdul Kalam berkata:
“Waktu aku masih kecil, ibuku memasak makanan untuk kami. Suatu malam dia membuat makan malam setelah seharian bekerja keras,
Ibu meletakan sepiring ‘sabzi’ dan roti gosong didepan Ayahku.

Aku menunggu untuk melihat apakah ada respon negatif dari ayah terhadap roti gosong itu.

Ternyata Ayahku tenang saja makan rotinya, ayah bertanya padaku bagaimana kegiatan disekolahmu hari ini.?

Aku tidak ingat apa yang kukatakan padanya malam itu, tapi yang aku ingat aku mendengar Ibu meminta maaf kepada Ayah atas roti yang gosong itu.

Aku tak akan pernah lupa yang ayah katakan.., sambil tersenyum ayah mengatakan ;
“Sayang..., aku sesekali suka makan roti gosong” sambil mencium kening ibu

Malamnya, sebelum tidur... aku mencium Ayah, mengucapkan selamat malam. Aku bertanya apa Ayah benar-benar menyukai rotinya yang gosong.

Ayah memelukku:

“Ibumu melalui hari yang berat dengan pekerjaan hariannya dari bangun sampai tidur lagi, dan tentu ibumu benar-benar lelah.

Roti gosong tidak pernah menyakiti siapapun, Kata-kata kasarlah yang akan "menyakiti” hati ibumu.

“Kau tahu nak..? hidup ini penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang-orang yang tidak sempurna.

Ayahpun bukan lelaki sempurna, belajarlah untuk menerima "ketidak sempurnaan itu”... supaya kamu bisa menikmati kebahagiaan bersama keluargamu nanti....

*Kisah dari berbagai sumber*
Share:

Caci Maki

 ILMU CACI MAKI



Obrolan Santri dan Usradz nya

Santri : "Ustadz pernah dicaci-maki orang?"

Ustadz : "Pernah....!"

Santri : "Pernahkah dimusuhi seseorang..?"

Ustadz : "Pernah....!"

Santri : "Apa pernah dibenci seseorang..?"

Ustadz : "Pernah....!"

Santri : "Ustadz juga pernah dihujat seseorang..?"

Ustadz : "Pernah....!"

Santri : "Apakah semua itu dilakukan secara terang-terangan..?"

Ustadz : "Ada yang dilakukan secara terang-terangan. Ada juga yang hanya dilakukan secara diam-diam dari belakang..."

Santri : "Lantas apa yang ustadz perbuat terhadap orang-orang itu..?"

Ustadz : "Aku tidak balik mencaci-maki mereka. Aku pun tidak merasa harus memusuhinya. Tidak pula akan membencinya dan aku juga tidak berpikir akan membalas hujatannya..."

Santri (penasaran) : "Kenapa bisa demikian, Ustadz..?"

Ustadz (sambil membetulkan duduknya) : "Itu karena pikiran serta hatiku tidak terfokus pada siapa yang mencaci-maki, siapa yang memusuhi, siapa yang membenci dan siapa yang menghujat.

Pikiran dan hatiku hanya terfokus pada...

Siapa yang menggerakkan lidah mereka, sehingga mencaci-maki aku...

Siapa yang menggerakkan jiwa mereka, sehingga memusuhi aku...

Siapa yang menggerakkan hatinya, sehingga membenci aku dan...

Siapa yang menggerakkan pikirannya, sehingga membuat mulutnya mampu menghujat aku."

Santri : "Dia itu siapa, Ustadz..?"

Ustadz : "DIA-lah ALLAH YANG MAHA PENCIPTA".

DIA-lah yang Maha Kuasa  atas segala sesuatu yang sudah, yang belum, yang sedang dan yang akan terjadi.

Ya...hanya DIA-lah satu-satunya yang memberi kemampuan dan kekuatan pada orang-orang itu, sehingga...

Lidahnya bisa mencaci-maki,

Jiwanya bisa memusuhi,

Pikirannya bisa membenci dan...

Bibirnya bisa menghujat aku. 

Tanpa-NYA tentu mustahil bisa terjadi.

Sehingga aku mengartikan, sebenarnya cacian, kebencian, permusuhan​ dan hujatan itu sengaja dihadirkan ALLAH agar...

Jiwaku menjadi KUAT melewati rintangan.. 

Hatiku menjadi SABAR tatkala menghadapi ujian.

Jadi SALAH BESAR jika aku menyalahkan orang-orang  itu. Apalagi membalasnya.

Bagiku itu tidak perlu, bahkan aku berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada hidupku ini tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba. 

Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh-NYA untuk kebaikanku.

Maka apapun kenyataan yang aku terima kemarin, hari ini atau suatu hari nanti tidak ada yang sia-sia.

Bahkan dibalik semua itu, pasti ada hikmah terbaik yang bisa merubah kehidupanku agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Karena aku tahu, Sesungguhnya ALLAH itu MAHA BAIK.


Santriku, ...

Jangan terpengaruh kalau dihina.

Jangan hati melambung kalau dipuji.

Tidak penting dianggap baik...

Yang penting terus belajarlah menjadi orang yang baik dan bertanggung jawab."

Hari ini, Santri tersebut mendapatkan ilmu berharga tentang ilmu caci maki, benci, dan hujatan. 

==================

Semoga kita bisa  mempraktekkannya, walaupun sulit...💪


Kiriman dari seorang sahabat.

Share:

Anak CERDAS


Kecerdasan Anak

MAKNA KECERDASAN?.

Di papan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa di tepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya. 

Lalu saya meminta pada 4 anak yg mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu. Untuk menyampaikan apa yang akan dilakukannya...

Anak ke 1 : Dengan cekatan dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian pohon kelapa, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh 

lengkap dengan persamaan matematika dan fisika. 

Lalu saya bertanya kepada siswa saya : "Apakah anak ini cerdas?"

dijawab serentak sekelas : "iya... Dia anak yang cerdas." Lalu saya lanjutkan cerita ... 


Anak ke 2 : Dengan gesit anak kedua ini datang memungut kelapa yang jatuh dan bergegas membawanya ke pasar, lalu menawarkan ke pedagang dan dia : "bersorak ... yesss ... laku... aku dapat Rp 5.000"

Kembali saya bertanya ke anak-anak di kelas : "apakah anak ini cerdas?"

Anak-anak menjawab : "iyaa ... Dia anak yg cerdas." 

Lalu saya lanjutkan cerita...

Anak ke 3 : Dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia bawa keliling sambil menanyakan, pohon kelapa itu milik siapa? Ini kelapanya jatuh, mau saya kembalikan kepada yang punya pohon.

Saya bertanya kepada anak-anak : "apakah anak ini cerdas?"

anak-anak dengan mantap menjawab : "Iya ... dia anak yang cerdas."

Sayapun melanjutkan cerita ke empat ... 

Anak ke 4 :  Dengan cekatan, dia mengambil kelapanya kemudian dia melihat ada seorang kakek yg tengah kepanasan dan berteduh dipinggir jalan. "Kek, ini ada kelapa jatuh, tadi saya menemukannya, kakek boleh meminum dan memakan buah kelapanya".

Lalu saya bertanya : "apakah anak ini, anak yg cerdas?"

Anak-anak  menjawab :"Iya ... dia anak yang  cerdas."

Anak-anak menyakini bahwa semua cerita di atas menunjukkan anak yg cerdas. Mereka jujur mengakui bahwa setiap anak memiliki "Kecerdas dan keunikan-nya".

Dan mereka ingin dihargai *"Kecerdas dan keunikannya"* tersebut.

Namun yang sering terjadi, di dunia kita, dunia para orang tua dan pendidik, menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi, yakni ? 

"Kecerdasan Anak Pertama Yaitu Kecerdasan Akademik", Lebih parahnya, kecerdasan yang dianggap oleh negara adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari nilai saat mengerjakan UN. 

Sedang ... 

"Kecerdasan Finansial" (anak no 2), "Kecerdasan Karakter" (anak no 3) dan "Kecerdasan Sosial" (anak no 4). Belum ada ruang yg diberikan Negara untuk mengakui kecerdasan mereka.

Anak Anda termasuk nomor berapa?

Saya jadi ingat, dulu sering kami jadikan olok-olokan saat SMA, antara anak IPA dan anak IPS, siapa yg sebenarnya cerdas? Bagaimana kira-kira perasaan buat anak IPS? Terkadang terasa diperlakukan jadi siswa yang terpinggirkan.... Duh menyedihkan...😥

Anak Anda semuanya adalah anak-anak yang cerdas dengan "Keunikan dan Kecerdasan-nya" masing-masing. Hargai dan jangan samakan dengan orang lain atau bahkan dengan diri Anda sendiri. 

Mari hargai kecerdasan anak kita masing-masing,  dan siapkan mereka dengan "4" kecerdasan  _(Akademik, Finansial, Karakter, dan Sosial)_  sebagai pedoman dimana mereka akan mengarungi lautan hidup kelak. 

#Tiap_manusia lahir dengan kecerdasan dan keunikan masing-masing#🌟🌟🌟


Sumber: kak ridiya

Share:

Jangan Sakiti Ibu

 💡 *_PESAN POSITIF HARIAN_* 💡 

*I.B.U.*


Allah karuniakan pada ibu kedudukan yg mulia dalam syariat-Nya. Allah sebutkan bagaimana pengorbanan ibu bagi anaknya. Yang karena itu, Allah dan Rasulullah perintah setiap anak berbakti pada ibunya. 


Sekedar meninggikan suara di hadapan orang tua sudah cukup menjadikan seorang anak jatuh dalam durhaka. Apalagi membentak dan menyakiti hati mereka. Terlebih lagi menyakiti ibunya. 


Namun, hari ini, kita dibanjiri tontonan, gosip, dan berita yang pelan-pelan membuat kita menganggap membentak orang tua, membentak ibu, seolah adalah hal biasa. Padahal, durhaka pada orang tua termasuk salah satu dosa besar, satu tingkat setelah dosa syirik, menyekutukan Allah Ta'ala.


Sembilan bulan ibu ke sana kemari membawa janin dalam perutnya. Ibu bertaruh nyawa ketika melahirkan anak-anaknya. Menyusui mereka selama dua tahun dengan segala kerepotannya. Ibu suapi anak-anaknya, memandikan mereka, membersihkan kotorannya, dan merawatnya dengan cinta, letih, dan air mata. Ternyata, anak-anak itu kemudian membentak dan durhaka padanya. Seperti apa rasanya? 


Semoga para ibu tidak sampai mengalami dan merasakan sakitnya didurhakai buah hati mereka. 


-------

Bacaan : Syarh Kitab Al-Kabair  Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan, Maktabah Al-Imam Adz-Dzahabi, hal. 624-627


✍🏻 @abun_nada

_Reposted by :_ @pesanpositifharian


         •┈┈┈┈• ❀ 💫⭐💫 ❀ •┈┈┈┈•

______________


Share:

Ibu... Selamat Hari Ibu


W A N I T A

Saat Kecil 
dia membuka pintu Syurga untuk ayahnya..

Saat Dewasa
dia menyempurnakan agama untuk suaminya

Saat menjadi Ibu 
Dia menjadi penggerak semua doa keluarganya

Oleh kerana itu 
dia dimuliakan Alloh dengan menempatkan syurga di telapak kakinya
ketika seorang wanita sudah menjadi IBU 


maka ALLAH akan menganugerahkan kepadanya satu senjata 
yang sangat ampuh di muka bumi ..

TAHUKAH ANDA , APAKAH ITU?

Itu adalah Lisannya
Lisannya akan menjadi Berat timbangannya...
Lisannya akan menjadi Pembuka pintu-pintu langit...

Ucapannya akan ... diijabah. 
Doanya akan diangkat ... tanpa penghalang
Doa ibu akan mampu menjadi penghangcur kesulitan bagi anak keturunannya.
Dan mengeluhnya seorang ibu akan menjadi pemberat langkah setiap anggota keluarganya termasuk bagi suaminya

Maka pantang bagi seorang ibu untuk  mengeluh
kerana keluhannya pun akan menjadi kenyataan, 
sebagaimana harapan dan doanya pun akan menjadi kenyataan.

Ucapan buruknya akan menjadi musibah bagi dirinya dan keluarganya
Lisan seorang ibu layaknya seperti Karomah para wali

Maka berhati-hatilah wahai para ibu, ketika anda menggunakan 
senjata terampuh ini ... LISANMU
Gunakan untuk bermunajat meminta kepada ALLOH agar suamimu dimudahkan 
dalam mencari nafkah 
Jangan mengeluhkan tentang dirinya. 
Itu  akan semakin memberatkan dan menyukarkan kehidupan anakmu

Gunakan untuk bermunajat meminta kemudahan dan 
Kesolehan  atas   anak-anakmu

Jangan mengeluhkannya. 
Kerana itu akan menjadi benar adanya..

Subhanalloh...
Renungan untuk para IBU
Selamat  Hari IBU
...buat ibu nan sholehat yg  bijak dan smart 

Baroqolloh fiikum ajmain



Semoga bermanfaat.....
Share:

TIDAK ADA SUAMI YG JUJUR



TIDAK ADA SUAMI YG JUJUR

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering dicaci maki bosnya.?

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering mendapat hinaan di luar sana.?

Taukah dirimu mungkin suamimu bahkan baru saja mempertaruhkan nyawanya demi dirimu dan anak" mu.

Taukah dirimu kalau suamimu mungkin sering menahan lapar demi bisa pulang membawa uang.

Sebelum engkau cemberut padanya,,,
Hitung lah dulu telah berapa juta tetes keringat engkau peras dari tubuhnya.

Sebelum engkau marah padanya,,,
Tataplah lekat-lekat matanya, mungkin tanpa kamu sadari mata itu telah banyak mengeluarkan air mata demi melihat dirimu tersenyum 😊 😞

Ketahuilah
Bila sampai hari ini dia belum bisa memenuhi segala keinginanmu, itu hanya karena faktor keadaan.

Tak seorang pun kepala keluarga yg tidak ingin melihat keluarganya bahagia.
Sebelum engkau marah kepadanya, lihatlah dan renungkan lah apa yg telah dilakukan oleh seorang suami.

Betapa suamimu sudah kerja keras banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebagian ayah tak pandai menceritakan kepedihannya pada anak istrinya, ia telan sendiri.
Ia tak mau anak istrinya tahu betapa susahnya ia berjuang.. Ia hanya ingin anak istrinya bangga terhadap dirinya, terhadap pekerjaannya..

Untuk para ayah di mana pun berada.
Smoga lelahmu menjadi berkah,

 Amiin ya Allah..🤲

Share:

Menjadi Guru Di Rumah





Ditulis : @_99 Bandung, 170320



Saatnya menghargai Bapak/Ibu Guru

(Dampak virus corona proses PKBM dialihkan dirumah selama pandemi ini)



Kita sering mengeluhkan dengan pelayanan guru di sekolah anak kita, bahkan d beberapa berita didapat orang tua yang mengadukan guru gara gara anaknya di sanksi karena melanggar disiplin atau tidak mengikuti arahan gurunya.


Bahkan ada cibiran dengan mengatakan orang  tua sudah bayar untuk menggaji guru maka guru harus memberikan pelayanan dan mengajarkan anaknya dengan standar orang tuanya, padahal harus kita sadari satu kelas tidak hanya 1 anak yang harus dididik dan diperhatikan, dan ketika sekelas itu berhasil semua jarang sekali ada penghargaan dan pujian ke guru tersebut hingga akhirnya para guru mendapatkankan gelar pahlawan tanpa tanda jasa.



Saat ini dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah untuk merumahkan anak sekolah banyak orang tua yang mengeluhkan bagaimana harus bagi waktu dan sulitnya mengatur anak untuk belajar, saya berfikir saat ini waktu terbaik untuk merasakan bagaimana guru harus membagi waktu untuk memperhatikan anak didiknya yg bukan terdiri dari 1 atau 2 orang saja....plus dengan karakter dan tuntutan orang tuanya....



Wahai bapak dan ibu orang tua siswa, kalian merasakan bagaimana mendidik anak bapak ibu yang hanya  satu atau dua orang saja sudah banyak keluhan dan status2 lainnya di sosmed yang menggambarkan bagaimana susahnya menjadi guru di rumah selama pandemi ini.


Saya mengajak mari saat ini selain konsentrasi menjaga kesehatan dari ancaman covid-19, jadikan momen ini untuk introspeksi terhadap bagaimana pengorbanan dan ikhtiar guru disekolah anak2 kita....dalam mendidik dan membina anak2 kita....



dicopas dari :

@_99

Bandung, 170320










Share:

MAGNET MENARIK REZEKI




Aktifitas yang dapat membawa kemudahan dalam kehidupan kita...

Sederhana untuk dilakukan/amalkan sehari-hari, semoga bisa membantu membuka pintu rezeki.



1. Letakkanlah sedikit makanan kucing dan semangkuk air di luar rumah untuk kucing-kucing yang datang.



2. Sisihkanlah sedikit dari hasil gaji atau upah jerih payahmu, untuk di sumbangkan kepada anak yatim dan orang miskin.



3. Senantiasa sediakan uang kecil di dalam dompet untuk diberikan kepada yang memerlukan.



4. Letakkanlah di kamarmu sebuah kotak. Setiap kali kamu merasa melakukan dosa, masukkan uang kecil kedalamnya. Genap 1 bulan, buka kotak itu dan sedekahkan uang tersebut.



5. Jika kamu hadir dalam suatu acara (keluarga, kerabat atau sahabat), belilah 1 atau 2 kotak air mineral, niatkan untuk disedekahkan kepada orang yang memerlukannya (orang tua, orang sakit, anak-anak dan lain-lain).



6. Jika kamu membeli barang dari pedagang-pedagang kecil kemudian kemudian sang pedagang ingin mengembalikan uang kembalian atau uang recehan, biarkan uang recehan itu untuknya (disedekahkan atau dihadiahkan).



7. Belilah Mushaf (Al-Qur'an), letakkan di salah satu masjid. Bayangkan berapa pahala yang akan kamu dapat dari setiap huruf dari mereka yang membacanya.



8. Berikanlah perasaan gembira kepada setiap orang, khususnya kepada mereka-mereka yang sedang ditimpa kesedihan, dengan senyuman dan ucapan doamu yg tulus.



9. Lemparkanlah senyuman kepada orang yang kamu temui, berilah salam kepada orang yang duduk dan berbicaralah dengan ucapan yang baik karena semuanya adalah sedekah.



10. Jangan biarkan kamu tertidur, melainkan telah kamu ampuni setiap orang yang telah berbuat jahat kepadamu dari menghinamu, menyebarkan fitnah dan menzalimimu.



11. Setting pada handphone kamu, tanda peringatan pada waktu-waktu tertentu untuk kamu membaca surah Al-Fatihah atau Al-Ikhlas yang di hadiahkan kepada kedua orangtua kamu, baik yang masih hidup atau telah meninggal dunia.



12. Silahkan kirimkan tips² ini ke semua teman atau sanak family kamu. Barangkali ada yang mau mengamalkannya.

Semoga kita pun akan diberi pahala  karenanya.



Selamat bersedekah..

Semoga kita dilimpahkan rezeki yang banyak dan berkah dari ALLAH SWT.. Aamiin...
Share:

KURIKULUM PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA!

BAGI ORANG TUA DAN GURU

HARUS BACA SAMPAI HABIS..




Sebuah Inspirasi untuk mendidik anak-anak masa depan





Seorang Ustadz berceramah menceritakan kisah nyata dari seorang rektor salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia yang sedang mencari sistem pendidikan terbaik yang dapat menghasilkan dan mencetak generasi yang cerdas, bermartabat dan bisa bermanfaat bagi bangsa dan agama.





Untuk mencari sistem pendidikan terbaik, rektor tersebut pergi ke Timur Tengah untuk meminta nasihat dari seorang ulama terkemuka di sana. 





Ketika bertemu dengan ulama yang ingin ditemuinya, lalu dia menyampaikan maksudnya untuk meminta saran bagaimana menciptakan sistem pendidikan terbaik untuk kampus yang dipimpinnya saat ini.





Sebelum menjawab pertanyaan dari rektor, ulama tersebut bertanya bagaimana sistem pendidikan saat ini di Indonesia mulai dari tingkat bawah sampai paling atas.





👨‍🎓 Rektor menjawab, :


📝 Paling bawah mulai dari SD selama 6 tahun


📝 SMP 3 tahun


📝SMA 3 tahun


📝Diploma 3 selama 3 tahun atau 


📝S1 selama 4 tahun


📝S2 sekitar 1.5 - 2 tahun


📝dan setelah itu S3 untuk yang paling tinggi."





👳🏻‍♀ "Jadi untuk sampai S2 saja butuh waktu sekitar 18 tahun ya?" Tanya Sang Ulama.





👨‍🎓 "Iya!!!" , jawab rektor tersebut.





👳🏻‍♀ "Lalu bagaimana jika hanya lulus sampai di SD saja selama 6 tahun, pekerjaan apa yang akan bisa didapat?" Tanya kembali Sang Ulama.





👨‍🎓"Kalau hanya SD paling hanya buruh lepas atau tukang sapu jalanan, tukang kebun dan pekerjaan sejenisnya."





"Tidak ada pekerjaan yang bisa diharapkan jika hanya lulus SD di negeri Kami." Jawab si rektor.





👳🏻‍♀  "Jika Lulus SMP bagaimana?"





👨‍🎓"Untuk SMP mungkin jadi office boy (OB) atau cleaning service,"  jawab kembali si rektor.





👳🏻‍♀ "Kalau SMA bagaimana?"





👨‍🎓"Kalau lulus SMA masih agak mending pekerjaan nya di negeri Kami, bisa sebagai operator di perusahaan-perusahaan" lanjut si rektor.





👳🏻‍♀ "Kalau lulus D3 atau S1 bagaimana?" Bertanya kembali Sang Ulama.





👨‍🎓"Klo lulus D3 atau S1 bisa sebagai staff di kantor dan S2 bisa langsung jadi manager di sebuah perusahaan"  kata si rektor.





👳🏻‍♀ "Berarti untuk mendapatkan pekerjaan yang enak di negeri Anda minimal harus lulus D3/S1 atau menempuh pendidikan selama kurang lebih 15-16 tahun ya?"


Tanya kembali sang Ulama. 





👨‍🎓"Iya betul !!!!" jawab si rektor.





👳🏻‍♀ "Sekarang coba bandingkan dengan pendidikan yang Islam ajarkan!"





〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰





"Misal selama 6 tahun pertama (SD) hanya mempelajari dan menghapal Al-Qur'an, apakah bisa hapal 30 juz?" Tanya Sang Ulama.





"In syaa Allah bisa"  jawab si rektor dengan yakin. 





"Apakah ada hafidz Qur'an di negeri Anda yang bekerja sebagai buruh lepas atau tukang sapu seperti yang Anda sebutkan tadi untuk orang yang hanya Lulus SD?" 


Kembali tanya Sang Ulama. 





"Tidak ada !!!", jawab si rektor.





"Jika dilanjut 3 tahun berikutnya mempelajari dan menghapal hadis apakah bisa menghapal ratusan hadis selama 3 tahun?"





"Bisa !!!", jawab si rektor. 





"Apakah ada di negara Anda orang yang hapal Al-Qur'an 30 juz dan ratusan hadis menjadi OB atau cleaning service?"





"Tidak ada !!!", jawab kembali si rektor.





"Lanjut 3 tahun setelah itu mempelajari tafsir Al-Qur'an, apakah ada di negara Anda orang yang hafidz Qur'an, hapal hadis dan bisa menguasai tafsir yang kerjanya sebagai operator di pabrik?" Tanya kembali ulama tersebut. 





"Tidak ada !!!"_, jawab si rektor. 





Rektor tersebut mengangguk mulai mengerti maksud sang ulama.





"Anda mulai paham maksud Saya?"_





"Ya !!!"_, jawab si rektor.





"Berapa lama pelajaran agama yang diberikan dalam seminggu?"





"Kurang lebih 2-3 jam" jawab si rektor.





Sang ulama melanjutkan pesannya kepada si rektor...







"Jika Anda ingin mencetak GENERASI YANG CERDAS, BERMARTABAT, BERMANFAAT bagi bangsa dan agama, serta mendapatkan PEKERJAAN YANG LAYAK setelah lulus nanti, Anda harus merubah sistem pendidikan Anda dari ORIENTASI DUNIA menjadi mengutamakan ORIENTASI AKHIRAT karena jika Kita berfokus pada akhirat in syaa Allah dunia akan didapat. Tapi jika sistem pendidikan Anda hanya berorientasi pada dunia, maka dunia dan akhirat belum tentu akan didapat.





Pelajari Al-Qur'an karena orang yang mempelajari Al-Qur'an, ALLAH akan meninggikan derajat orang tersebut di mata hamba-hambaNya.





"Itulah sebabnya Anda tidak akan menemukan orang yang hafidz Qur'an di negara Anda atau di negara manapun yang berprofesi sebagai tukang sapu atau buruh lepas walaupun orang tersebut tidak belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi karena ALLAH yang memberikan pekerjaan langsung untuk para hafidz Qur'an. Hafidz Qur'an adalah salah satu karyawan ALLAH dan ALLAH sayang sama mereka dan akan menggajinya lewat cara-cara yang menakjubkan. "








"Tidak perlu gaji bulanan tapi hidup berkecukupan."





Itulah pesan Sang Ulama kepada rektor tersebut.





Mari kita didik diri dan keluarga kita dengan Sistem Pendidikan Terbaik.





Semoga bermanfaat, dan dapat dijadikan rujukan bagi guru dan orang tua kaum muslimin.





SILAHKAN DISHARE! 


Agar semakin banyak yang  terinspirasi untuk mempelajari dan menghapal Al-Qur'an dan As-sunnah.





Salam Ukhuwah


Subhanallah 


Allahu Akbar





"Sumber WAG" ... tidak diketahui siapa penulisnya

Terimakasih 

Share:

Pepeling Ali Sadikin Orang Lembur




Pepeling Ali Sadikin Orang Lembur





Share:

Dimana Kebahagiaan ???

 Dimana Kebahagiaan ???

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. 
Lewatlah sebuah motor di depan mereka. 
Berkatalah petani ini pada istrinya:
"Lihatlah Bu, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka juga kehujanan, tapi mereka bisa cepat sampai di rumah. Tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah." 

Sementara itu, pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka. 
Pengendara motor itu berkata kepada istrinya:
"Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu. 
Mereka tidak perlu kehujanan seperti kita." 

Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan, ketika sebuah mobil sedan Mercy lewat di hadapan mereka:
"Lihatlah bu, betapa bahagia orang yang naik mobil bagus itu. Mobil itu pasti nyaman dikendarai, tidak seperti mobil kita yang sering mogok." 

Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya, dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan di bawah guyuran air hujan, pria kaya itu berkata dalam hatinya:
"Betapa bahagianya suami istri itu. Mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini. 
Sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu untuk berdua karena kesibukan kami masing masing." 

Kebahagiaan tak akan pernah kita miliki jika kita hanya melihat kebahagiaan milik orang lain, dan selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. 
Bersyukurlah kepada Allah SWT atas hidup kita ...

Supaya kita tahu di mana kebahagiaan itu berada


Untuk : Istri dan Anak Anak Abi ...  Abi sayang kalian semua...







Share:

Keluarga Bahagia



Bismillah...

Dan orang orang yang berkata: “Ya Robb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Qs. Al-Furqon ayat 74

Terwujudnya kebahagiaan rumahtangga adalah dambaan setiap pasangan suami-istri. Sayangnya, tidak semua pasangan suami-istri berusaha semaksimal mungkin untuk merengkuhnya.

Penyebab utama ketidak harmonisan atau kegagalan berumahtangga adalah karena sejak awal, pasangan suami-istri tidak menetapkan konsep tentang kebahagiaan rumahtangga, tidak menetapkan sarana yang dapat mengantarkan mereka ke tujuan tersebut, SERTA TIDAK MENGERAHKAN SELURUH DAYA UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN TERSEBUT.

Padahal kebahagiaan rumahtangga laksana tanaman yang berbuah, ia tumbuh setelah ditanam, disiram, dan dirawat. Kebahagiaan rumahtangga bukanlah berkat tiadanya perselisihan antara suami-istri, melainkan karena keberhasilan mengatasinya. Kebahagiaan rumahtangga bersumber pada perlakuan yang baik di antara suami-istri.

Seiring dengan itu, hal yang sangat mendasar untuk diketahui suami-istri adalah bersikap realistis dalam memahami karakteristik kehidupan berumahtangga. Karakteristik tersebut adalah tiadanya kesempurnaan antara sifat atau watak suami di mata istri, dan sifat atau watak istri di mata suami. Oleh sebab itulah keduanya tidak boleh berharap berlebihan mengenai terwujudnya suatu gambaran keharmonisan hidup berumahtangga secara sempurna.

Kebahagiaan berumahtangga yang ditandai keharmonisan dan kemesraan hubungan suami-istri bukanlah bertumpu pada sesuatu yang mustahil. Sangat mungkin suami-istri akan hidup penuh dengan cinta, jika setiap dari mereka mengetahui apa yang disenangi dan apa yang tidak disenangi oleh pasangannya.

Masalah yang terjadi antara suami-istri umumnya dikarenakan adanya perbedaan di antara keduanya, tidak adanya perhatian di antara mereka, serta tidak melihat suatu permasalahan secara bijak. Senang mendramatisir sesuatu yang tidak seharusnya. Menciptakan prasangka 2 yang sama sekali blum jelas alasanya. Inilah biang masalah yang dapat mengancam perjalanan biduk rumahtangga.

Seharusnyalah membangun kebersamaan yang mungkin lebih dominan diantara suami-istri , bukan sebaliknya membesarkan perbedaan yg sehrusnya bukan masalah besar.

Islam telah mengajarkan bagaimana semua persoalan tersebut harus disikapi atau diatasi.

Pasangan suami-istri yang mempunyai keberagamaan yang baik, membuat satu sama lain merasa lebih tenteram. Mereka saling mengasihi, menghormati, saling percaya untuk menjaga rahasia dan nama baik diri sendiri dan keluarga, merawat dan mendidik anak, menjaga harta, serta menjalin hubungan baik dengan orangtua/mertua dan saudara kandung/ipar.

Membangun kebahagiaan rumahtangga yang didasari agama akan berlangsung secara langgeng. Agama adalah pelita bagi akal dan hati. Dengan agamalah akal mampu memandang kebenaran sejati sehingga hati pun menjadi tenang dan tenteram dalam menjalani kehidupan berumahtangga.

Sebaliknya, membangun rumahtangga yang cuma mengandalkan fisik (tetampanan atau kecantikan), materi, atau ukuran keduniawian lain, merupakan rumahtangga yang dibangun di atas fondasi yang rapuh, labil, karena mengikuti keinginan nafsu destruktif.

Cepat atau lambat, kebahagiaan semacam itu akan memudar, bahkan hilang sama sekali karena disandarkan pada sesuatu yang fana.........................

Wallohu'alam









Share:

Pendidikan Dalam Keluarga Muslim





Pendidikan Dalam Keluarga Muslim


Sebagai orang tua tentu senantiasa berharap, berdo’a dan berusaha
semaksimal mungkin agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang shalih,
anak-anak yang bermanfaat. Namun siapa yang bertanggung jawab menjadikan mereka
anak shalih, apakah orang tua? Ataukah sekolah dan para gurunya?









Beruntungnya Orang Tua Yang Memiliki Anak
Shalih


Allah ta’ala berfirman
dalam sebuah ayat yang telah kita ketahui bersama,



                                                          


“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
 (At Tahrim: 6).

 
Sungguh
beruntung dan berbahagialah orang tua yang telah mendidik
anak-anak mereka sehingga menjadi anak yang shalih, yang selalu
membantu orang tuanya, mendo’akan orang tuanya, membahagiakan mereka dan
menjaga nama baik kedua orang tua. Karena anak yang shalih akan senantiasa
menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari
anak shalih yang dimilikinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  


                 








“Apabila
seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga,
yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang
mendo’akannya.”
 (HR.
Muslim: 1631).









Oleh
karenanya, saking urgennya pembinaan dan pendidikan sang anak sehingga bisa
menjadi anak yang shalih, Allah ta’ala langsung membebankan
tanggung jawab ini kepada kedua orang tua. 



















Demikian
pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memikulkan
tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Dari Ibnu radhiallahu
‘anhu
, bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,






                      






“Setiap
kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai
pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin
bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
 (HR. Bukhari: 2278).


 











Abdullah bin
Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,






                                                     






“Didiklah
anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai
pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga
akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada
dirimu.”
(Tuhfah
al Maudud 
hal. 123).


 








Orang tua
yang berusaha keras mendidik anaknya dalam lingkungan ketaatan kepada Allah, maka
pendidikan yang diberikannya tersebut merupakan pemberian yang berharga bagi
sang anak, meski terkadang hal itu jarang disadari. Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan Al-Hakim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,










“Tiada suatu
pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang
baik.”
 (HR.
Al Hakim: 7679).










Mengenai
tanggung jawab pendidikan anak terdapat perkataan yang berharga dari Imam Abu
al-Hamid al-Ghazali rahimahullah. Beliau berkata,






“perlu diketahui
bahwa metode untuk melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling
penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak
merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan
permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir... (Ihya Ulum al-Din 3/72).






Senada
dengan ucapan al-Ghazali di atas adalah perkataan al-Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah






“Siapa
saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya,
lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal...








(Tuhfah
al-Maudud
 hal. 125)









Pendidikan anak, kewajiban siapa?


Di tengah masyarakat seolah-olah terdapat “pembagian
wilayah tugas” antara ayah dan ibu. Ayah mencari nafkah, dan karena itu
sebagian besar waktunya ia habiskan di luar rumah. Sedangkan ibu, tugasnya
mengurus segala kepentingan rumah tangga termasuk di dalamnya mengurus anak.





Bicara mengenai pendidikan anak dalam Islam, dan siapa
yang harus memikul tanggung jawab itu, pada dasarnya tidak ada pembedaan di
antara ayah dan ibu. Keduanya sama-sama mempunyai tugas mendidik anak. Seorang
ayah sudah
barang tentu memiliki tugas pendidikan anak, sesuai dengan apa yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah saw, sebab tidak ada ayah yang lebih baik daripada
Rasulullah saw.  


“Rasulullah adalah seorang ayah, sekaligus murabbi, seorang
pendidik. Sehingga, tugas utama ayah adalah at-tarbiyah, mendidik anaknya.”





Dalam  Al-Quran kita
akan temukan beragam kisah yang menceritakan bagaimana para ayah, dalam hal ini
nabi dan orang-orang shalih, mendidik anaknya. Jarang sekali, atau bahkan tidak
ada, teks Al-Quran yang menyebut seorang ibu mengenai pendidikan anak.





Contoh yang paling dikenal adalah kisah Luqman,
seorang ayah, laki-laki yang shalih, yang memberi pesan tauhid kepada anaknya. Yang diabadikan dalam Surat Lukman.


Selain kisah Luqman di atas, kita pun bisa mengetahui
bagaimana Ibrahim mendidik anaknya, Ismail, sehingga perintah yang diterima
Ibrahim dari Tuhannya untuk menyembelih Ismail kemudian bisa ditaati oleh putra
tercintanya itu. 


Juga terangkum dalam sejarah, Nabi Muhammad yang mengajarkan
anak-anaknya, terutama Fatimah, kecintaan kepada Allah, dan mendidiknya hingga
tumbuh menjadi pribadi yang kuat, cerdas dan sederhana.





Namun, meski yang sering disebut dalam
Al-Quran itu adalah ayah, itu bukan berarti menafikan peran seorang ibu. “Dalam
Al-Quran, ketika yang disebut itu laki-laki, maka bagi perempuan itu sudah include
di dalam instruksi tersebut. 


Kesiapan Ismail untuk
melaksanakan perintah penyembelihan dirinya. “Tidak mungkin Ismail itu begitu
cepat merespons panggilan Allah, ‘wahai bapakku, lakukan apa yang kau
diperintahkan,’
kalau dia tidak dididik oleh ibunya, Hajar as. Karena kalau
ibunya bukan seorang pendidik, ia mungkin saja akan memprovokasi anak, ‘jangan
mau, nak.’
 


Jadi, dengan tidak disebut secara langsung, tetap
termaktub sebuah isyarat bahwa Hajar—dengan makna luas adalah ibu, merupakan
bagian dari sistem pendidikan untuk anak-anak dalam sebuah keluarga yang
dibinanya. 









Bagaimana dengan Lembaga Pendidikan


Jelas sudah bahwa baik ayah maupun ibu sama-sama
memikul tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya, mengantarkan mereka menjadi
hamba Rabbani yang mampu memenuhi segala tuntutan hidup yang datang pada
dirinya.





Tetapi, bagaimana kiranya jika ayah dan ibunya menyerahkan
sepenuhnya urusan pendidikan anak ini kepada Lembaga Pendidikan.
Merasa
sudah cukup dengan menyerahkan anak-anak ke sekolah-sekolah ternama, misalnya,
untuk dididik oleh guru-guru yang berpengalaman. Fenomena ini tak jarang kita
saksikan, atau juga kita alami sendiri, dalam kehidupan kita sehari-hari.






Sekalipun sang ayah sudah menyerahkan kepada lembaga Pendidikan hal
itu tidak serta merta menggugurkan kewajibannya dalam mendidik anak, 




Kewajiban mendidik anak, yang utama jelas terletak pada kedua
orangtua, ayah dan ibu. Bukan pada sekolah, madrasah, pesantren atau lembaga
pendidikan lainnya.

                               










Keumuman
kaum Muslimin hari ini dan keumuman manusia menganggap bahwa pendidikan adalah
kewajiban lembaga pendidikan
. Atau dengan kata lain, kelaziman kaum Muslimin
dan manusia umumnya menganggap bahwa para putra-putri kita diserahkan kepada
lembaga pendidikan. Kedua, kita menganggap bahwa pendidikan
anak atau mendidik anak hanya dalam ruang lingkup apa yang dinamakan
dengan lembaga pendidikan.






Sebetulnya
ini adalah 2 pemikiran yang keliru dalam hakikat, maksud, dan tujuan dari
pendidikan, sekaligus tugas dari pendidikan.









Kalau kita
ditanya pada pertanyaan yang pertama, “Siapakah yang bertanggung jawab mendidik
anak?”







Maka jawaban yang benar, yang ditunjukkan dalil Al-Qur’an dan dalil Sunnah,
adalah kedua orang tua. Lembaga pendidikan, atau secara khusus kita katakan
seorang guru, maka mereka bukanlah pemeran utama dalam kewajiban mendidik anak.
 






Hal ini karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:






“… peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka …” (QS At-Tahrim [66]: 6)








Keberadaan lembaga pendidikan sesungguhnya lebih
bersifat sekadar membantu. Pendidikan yang sebenarnya tetap berasal dari
orangtua. “Jangan sampai juga orangtua jatuh pada pemahaman yang salah mengenai
sekolah.






Pemikiran macam ini jelas tidak benar. Sebab harus ada
sinkronisasi antara tugas orangtua dan tugas guru. “Di sekolah, gurulah yang
sekaligus menjadi orangtua. Namun di  rumah, orangtualah yang sekaligus
menjadi guru bagi anak-anaknya. Jadi baik di rumah ataupun di sekolah,
anak-anak berada dalam suasana madrasi, suasana sekolah, sehingga anak bisa
terpantau dalam kehidupanya.








Disusun oleh : N Ahmad Haryadi






 






 





 



Share: