Ikatan Keluarga Alumni SMPN 181 Jakarta Pusat

Kedermawanan



Yang Tertukar

Seorang wanita bertanya pada penjual telur yg sudah tua, "Berapa harga telurnya?"
Penjual telur menjawab, "Satu butir harganya Rp 2.500, Nyonya."
Wanita itu berkata, "Saya mau mengambil 6 butir tapi dengan harga Rp 12.500 atau kalau nggak ya udah, nggak jadi beli."
Penjual telur menjawab, "Baiklah, mungkin ini awal yg baik karena dari tadi tak ada satupun telur yg berhasil saya jual."
Wanita itu mengambil telur2 tersebut dan berjalan dengan perasaan senang bahwa dia sudah menang. Kemudian dia masuk ke dalam mobil mewahnya dan pergi ke restoran bersama temannya. Di sana, dia bersama temannya memesan apapun yg mereka sukai.
Mereka makan sedikit dan menyisakan banyak dari apa yg sudah mereka pesan. Kemudian wanita tersebut membayar tagihannya. Tagihannya sebanyak Rp 450.000. Dia memberikan uang Rp 500.000 dan berkata bahwa kembaliannya untuk sang pemilik restoran saja.
Kejadian seperti ini mungkin terlihat normal bagi pemilik restoran, tapi sangat menyakitkan bagi penjual telur yg sudah tua.
Intinya adalah: "Mengapa kita selalu menunjukkan bahwa kita punya kuasa ketika kita membeli dari orang2 yg membutuhkan? Dan kenapa juga kita jadi dermawan kepada orang2 yg bahkan tidak membutuhkan kedermawanan kita?"
Suatu ketika saya pernah membaca:
"Ayahku biasa membeli barang2 remeh-temeh dari orang miskin dengan harga tinggi, walaupun dia tidak membutuhkan barang2 tersebut. Kadang2 dia bahkan membayar lebih untuk itu. Aku tertarik pada hal ini dan lantas bertanya mengapa dia melakukannya? Kemudian ayahku menjawab, "Anakku, Ini Adalah Sedekah Yang TerBungkus Dengan Harga Diri."
Pertanyaannya;
Kita Termasuk Yang Mana?
Wanita Yang Membeli Telur & Menawar?
Atau...
Wanita Yang Memberikan Tips Ke Restorant?
Atau...
Sedekah Yang Terbungkus Dengan Harga Diri?
_Be Wise & Be Positive Thinking Always_
Semoga Alloh Ta'ala membimbing kita untuk selalu dalam kebaikan dan kebahagiaan hidup yg diRidhoi Alloh Ta'ala.
Semoga kita bisa terus istiqomah dalam beribadah, senantiasa mensyukuri nikmatMu dan beri kami kekuatan dalam beribadah dan menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), Aamiin

Sumber : www.sejenakpagi.info







Share:

Catatan dari seorang anak...suami...dan ayah

Bismillah...
Alhamdulillah

'Ntah dari mana aku akan memulai
tulisan ini... dan 'ntah mengapa aku
ingin membuat tulisan ini.


Apa karna kecemasan yang demikian dalam...?

Hmmm... mungkin dimulai dari
hari ini saja 


Hari ini 44 tahun yang lalu (19 November1971)
seorang anak lahir di dunia ini dari keluarga berdarah sunda di sebuah RS di
Jakarta Pusat. Keluarga biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa...tetapi kami
cukup bahagia dan sejahtera. Ayah dan mamah (demikian biasa kami memanggil
untuk orang tuaku) berasal dari Garut sebuah kota di Jawa Barat. Sudah sejak
muda orangtua ku merantau di Kota Jakarta.




Di hari lahirku inilah, aku
jadi teringat “mamah” ... sosok wanita yang melahirkanku..”semoga Alloh
mengampuni dosa2nya dan menyayanginya seperti aku di waktu kecil, dan semoga
Ayah dan mamah di sana dalam keadaan sehat walafiat... serta Alloh berikan
kemudahan urusanya serta kelancaran rezekinya... dan di jauhkan dari mara
bahaya...aamiin...


Mamah maafkan anak mu ini...
yang sampai detik ini belum bisa membahagiakan mu... tetapi aku akan senantiasa
berdoa semoaga Ayah dan Mamah di berikan bimbingan ...kemudahan dalam
menjalankan perintah-perintah Alloh... agar tercapai kebahagiaan akherat... kebahagiaan
yang hakiki... aamiin


Apa yang aku persembahkan
sampai saat ini tentunya tidak seberapa di bandingkan pengorbanan .. kasih sayang
yang ayah - mamah berikan kepada ku sampai saat ini...

Jerih payah ayah sebagai pekerja yang disiplin dan rajin... sungguh sangat terinpirasi bagi diri ini... Didikan ayah selalu akan ku ingat... terimakasih ayah ... engkau telah membentuk diri ini menjadi seorang ayah dan suami yang bertanggungjawab....



Semua yang aku peroleh aku yakin aku takkan mampu
untuk membalasnya.


Ayah-Mamah maafkan anakmu bila
selama ini ada ucapan dan perbuatan yang menyakitimu...semoga ayah dan mamah mau
memaafkan anakmu ini...


Terbayang akan mamahku yang
melahirkan ... aku pun  teringat kepada
wanita yang melahirkan anak-anak ku... “istriku”


Dialah wanita yang menemaniku selama ini. Bahtera yang kami jalani bersama saat ini akan genap 15tahun
(24 november nanti). Sungguh bukan hal yang mudah dan ringan mengarungi lautan
kehidupan ini ... ada pasang dan surutnya... ada gelombang ombak dan tiupan
angin lautnya...


Istriku kau dampingi suamimu
dengan sabar ... dengan tabah dan tak pernah putus asa... ketika berada dalam
goncangan ombak kehidupan... kau berikan semangat dan kesabaran pada diriku.


Apapun yang aku berikan kau
terima dengan senang dan ikhlas walaupun kau tau apa yang kuberikan sunngguh
sangat jauh dari kecukupan.


Dan semua itu kita lalui
bersama sampai menjelang genap 15 tahun pernikahan kita. Kau berjuang untuk
kelahiran anak kita... dengan mempertaruhkan nyawamu... kau mengurus...
mendidik dan menyayangi mereka... Terimakasih istriku, sungguh aku takkan
mungkin dapat mencari wanita lain yang sepertimu. Aku cukup bahagia dengan
melihatmu bahagia... indah di pandang mata dan membawa ketenangan di dalam hati
ini... engkaulah istri solehah.


Aku dengan istri dan lima anak-anakku,
kini tinggal di kota Jakarta belahan timur. Dalam kehidupan ini sudah banyak
hal-hal yang menjadi pelajaran dalam hidup ku .


Yaa Alloh berikan
ketenangan... kedamaian dan kasih sayang dalam rumah tangga kami... jadikan
anak-anak kami anak yang soleh dan solehah... Aku sebagai ayah dari lima anak


Zahra 
– Syifa 

– Ghozie 

– Syaiful dan

– Badar 

Anak-anakku jadilah kalian muslim yang
berTAQWA. Bukan gelar dunia yang kami inginkan, tetapi menjadikan kalian
sebagai generasi penerus risalah dakwah ini ... generasi muda Islam yang kuat
... tangguh... untuk menegakkan kalimat Alloh.

Ya Alloh berikan kepada hambamu ini kemampuan mendidik amanah yang Engkau berikan... Jadikan kami penghuni-penghuni surgamu Yaa Alloh...  “...jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka...” (Qs.
At-Tahriim ayat 6)


Di hari ini, ketika usia ini
semakin bertambah dan masa hidup semakin berkurang ... timbul dalam diri ini
kecemasan kekhawatiran

“... bekal apa
yang sudah aku siapkan untuk hari esok...” (Qs. Al-Hasyr ayat 18).

Maka ku
mohon yaa Alloh terimalah amalan soleh hambamu ini... jadikan sebagai bekal
hidupku ya Alloh... di kehidupan yang hakiki... Berikan kemampuan kepada hambamu
ini dalam menjalankan perintah-perinyah mu Yaa Alloh ... aamiin ...

Laa haula walaa quwwata illa billah ...












Share:

Kentut dari sudut pandang Ilmu
















Saya jadi teringat cerita teman yang seorang guru. 

Ketika rapat Guru dgn Kepala Sekolah yg sedang berlangsung, Tiba² terdengar suara angin yg dibarengi aroma tidak sedap. 

Para Guru pun saling tuding & mengomentari. 

~*Guru Matematika : "Sesuatu yg tidak bisa dikalikan namun baunya bisa di-bagi²..." 

~*Guru Kesenian : "Bunyi nadanya terletak pada kunci K." 

~*Guru Fisika : "Inilah yg disebut inner power; tenaga yg digunakan kecil namun hasilnya luar biasa." 

~*Guru Biologi : "Inilah ciri makhluk hidup melanjutkan hidupnya." 

~*Guru Agama : "Ini salah satu penyebab batalnya wudhu & shalat."

 ~*Guru Geografi : "Posisi keberadaannya mengikuti arah mata angin." 

~*Guru Sosiologi : "Perilaku menyimpang pada sikap manusia."

 ~*Guru Sejarah : "Salah satu penyebab terjadinya perang mulut. ~

*Guru Bahasa : "Kalimat bisa ditulis namun aromanya tak bisa diungkapkan dgn kata²." 

~*Guru PKN : "Salah satu contoh pelanggaran norma kesopanan/etika"

 ~*Kepala Sekolah : "sudah jangan berisik, saya yg kentut. ?!!" 😎

Makasih ceritanya ternyata "Kentut" banyak memiliki makna ditinjau dari berbagai macam ilmu... 


Kiriman seorang teman

Share:

Hanya Engkaulah Yang Maha Mengatur

Ya Alloh , Aku tak mampu mengobati atau menyenangkan siapapun
...
Hanya Engkaulah Yang Maha Mengaturnya






 



Share:

Kisah : SEKILO "GULA MERAH"



Ada seorang lelaki miskin penjual gula merah yang dibuat istrinya untuk dijualnya ke kota. 

Istrinya selalu membuat gula merah dengan bentuk bulat dan beratnya 1 kg. 

Dia selalu menjual gula merah itu ke salah satu toko dan membeli kebutuhan harian mereka untuk sekadar makan.

Suatu ketika pemilik toko itu curiga dengan berat gula merah itu dan dia pun menimbangnya. Ternyata beratnya tidak sampai 1 Kg, Hanya 900 Gram. Tangannya gemetar dan dadanya terasa seperti ingin meledak.

"Jadi selama ini dia membohongiku. Berapa banyak kerugian yang aku alami.

Penipu!!!” teriaknya dalam hati.

Hari itu juga lelaki miskin itu didatanginya dgn membawa gula merahnya. “Kamu telah menipu saya.. ! Kamu bilang gula merah ini 1 Kg ternyata hanya 900 Gram saja.. !”  teriak pemilik toko.

Lelaki miskin itu menundukkan kepalanya dan berkata : “Kami orang miskin. Kami tidak punya timbangan di rumah. Kami membeli beras di toko Bapak seberat 1 Kg dan itulah yang kami jadikan timbangan untuk menimbang gula merah".

Seketika wajah si pemilik toko jadi merah karena malu, Semerah seperti gula merah yang dia persoalkan.


Pesan moral

Pandai2lah introspeksi diri. Terkadang Kita melihat orang lain Salah, Tapi kita tidak menyadari ternyata sebenarnya sumbernya kesalahan itu datang dari diri kita sendiri.....


Kiriman dari seorang sahabat ...

Share: